Analisa Keselamatan Kerja

Job Safety Analysis atau Analisa Keselamatan Kerja adalah proses formal dalam mengidentifikasi bahaya, mengevaluasi dan  mengendalikan resiko. Bagaimana mengidentifikasi bahaya? Banyak cara untuk mengidentifikasinya salah satunya melihat sekeliling areal kerja kita apa saja yang bisa menyebabkan orang celaka, dapat dilakukan melalui inspeksi, monitoring, observasi, atau survey kondisi areal kerja. Sebelum mengupas lebih jauh tentang JSA ini sebaiknya kita perlu mengetahui dahulu apa itu Bahaya? Karena masih banyak praktisi K3 yang sering mengatakan istilah ini namun ketika ditanya apa itu bahaya mereka kebingungan menjawabnya begitupun ketika ditanya apa itu Resiko?

Bahaya menurut ISO 45001 adalah sumber atau situasi yang berpotensi untuk menyebabkan cedera dan sakit sedangkan Resiko adalah kombinasi dari kemungkinan suatu pekerjaan yang berhubungan dengan kegiatan berbahaya atau paparan, tingkat keparahan cidera dan gangguan kesehatan yang dapat disebabkan oleh kegiatan atau paparan. Contoh bahaya yang sederhana adalah adanya ceceran air dilantai , membuang kulit pisang sembarangan Resikonya bisa mengakibatkan orang terjatuh/terpeleset/terkilir dll, dari contoh-contoh bahaya diatas akan menimbulkan resiko-resiko yang mengiringinya maka agar tidak mencelakai orang kedua hal tersebut wajib dikendalikan untuk satu kata SELAMAT.

Banyak sumber-sumber bahaya ditempat kerja antara lain Suhu ektrim, Zat-zat Kimia, Energi Listrik, Kebisingan, Getaran, Magnet, Radiasi, Mekanis, Kinetik, Gaya tarik bumi, Tekanan, Biologis. Sumber-sumber bahaya tersebut bila tidak bisa kita kendalikan maka akan beresiko terjadinya kecelakaan. Dalam JSA untuk mengendalikan bahaya dan resiko ini ada yang namanya hirarki pengendalian bahaya/resiko antara lain adalah Eliminasi yaitu menghilangkan sumber bahaya, Substitusi melakukan penggantian pada bahan, material atau peralatan agar lebih aman digunakan, proses engineering atau rekayasa  melakukan modifikasi peralatan kerja, administrasi dengan membuat prosedur kerja seperti SOP.JSA.WI dan terakhir adalah APD (Alat Pelindung Diri) penggunaan sepatu safet, helm, masker, kacamata, rompi dll.

Kapan JSA dibuat? Sebelum memulai pekerjaan baru, Kapan JSA digunakan? saat proses pekerjaan berlangsung. Siapa yang seharusnya membuat JSA tersebut? jika pertanyaan ini diajukan kepada para pekerja kita akan menemukan jawaban yang bervariasi bahwa JSA itu yang membuat adalah orang-orang bagian K3L, JSA dibuat oleh ahlinya, oleh para pekerja, oleh para pengawas dll. Bahkan masih banyak ditemukan diperusahaan, orang-orang K3L yang pekerjaan setiap harinya hanya  membuat JSA alias memproduksi JSA. Setiap ada pekerjaan baru para pengawas datang keruangan Safety untuk meminta dibuatkan JSA seakan-akan orang safety mengerti betul setiap pekerjaan para pengawas. Dikomputernya telah tersedia ratusan file JSA dengan berbagai macam jenis pekerjaan yang siap di copy paste, edit, print, register, tandatangan dan diserahkan kepengawas untuk digunakan dilapangan, JSA ini sering disebut JSA sapu jagat. Dan lebih ironisnya lagi setelah sampai lapangan pengawas tidak pernah mensosialisasikan JSA tersebut, hanya meminta para pekerja menandatangani form lembar hadir sosialisasi JSA, seolah-olah semua anggotanya sudah mengerti serta memahami isi dari JSA tersebut.

Hal diatas adalah kesalahan besar yang seharusnya tidak boleh dilakukan, JSA dibuat oleh orang-orang yang mengerti atau ahli dibidang pekerjaannya tersebut, yang sangat mengerti tentang pekerjaan adalah  pengawas/penanggung jawab pekerjaan dan para pekerjanya bukan orang-orang safety maka yang harus membuat JSA adalah mereka. Bagaimana mungkin seorang safety yang tidak mengerti tentang listrik disuruh membuat JSA Install cable high voltage, seorang safety yang tidak mengerti pekerjaan pompa disuruh membuat JSa Install Pump at Pond dan lain sebagainya.

Lalu apa tugas bagian K3 yang berhubungan dengan pembuatan JSA ?

  1. Memberikan pelatihan JSA kepada semua pengawas
  2. Merevisi JSA yang dibuat oleh pengawas terutama dalam menentukan jenis bahaya dan cara pengendaliannya
  3. Terlibat secara langsung dilapangan bersama pengawas serta anggotanya nntuk mendiskusikan JSA pekerjaan yang akan dilakukan nanti.
  4. Menandatangani JSA
  5. Membuat Register JSA serta Statistik yang berkaitan dengan JSA
  6. Memonitoring penerapan JSA telah dilakukan dengan benar apa tidak oleh pengawas dilapangan termasuk telah disosialisasikan kepada para pekerja dan apakah benar-benar telah dipahami oleh mereka.
  7. Membuat JSA yang berhubungan dengan pekerjaan bagian K3L seperti JSA pemasangan rambu-rambu dijalan, JSA Penanaman pohon dll.

Setiap perusahaan memiliki form JSA yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya namun intinya tetap sama berisi langkah-langkah setiap aktifitas pekerjaan, bahaya serta resiko dari setiap aktifitas pekerjaan dan kemudian cara mengendalikannya seperti apa. JSA harus dibuat sedetil mungkin jangan sampai ada langkah pekerjaan yang terlewatkan karena bila sampai terlewatkan kemudian terjadi kecelakaan maka ketika proses investigasi dilakukan maka akan dianggap anda tidak membuat JSA karena tidak ditemukan langkah pekerjaan tersebut, bahaya/resiko serta kontrol dalam JSA  yang telah dibuat.

Ada tiga metode dalam pembuatan JSA yaitu yang pertama adalah Pengamatan secara langsung (Observasi) Pengawas akan menghubungi bagian K3 atau bahkan manager juga dilibatkan untuk datang kelokasi yang akan dikerjakan, langkah kedua bersama-sama mendiskusikan pekerjaan, jenis bahaya/resiko serta bagaimana cara mengendalikannya. Langkah ketiga yaitu mengingat kembali pekerjaan serupa pernah dilakukan dilokasi yang berbeda namun ada sedikit perbedaan potensi bahaya misalnya pekerjaan besok adalah  Pemasangan Instalasi Listrik dilantai 2 Hotel Savira, bulan lalu juga telah melakukan pekerjaan yang sama yaitu pemasangan instalasi listrik di lantai dasar Hotel Hilda, nah pekerjaan sama namun lokasinya berbeda tentu jenis bahayanya juga akan berbeda. Hotel Hilda tidak perlu naik turun tangga atau menggunakan lift karena dilantai dasar sedangkan dihotel Savira karena dilantai dua maka ada langkah pekerjaan naik-turun tangga atau penggunaan lift.

Job safety analysis memiliki banyak manfaat antara lain,

  1. Kesadaran pekerja akan keselamatan meningkat
  2. Pengetahuan tentang pekerjaan menjadi bertambah
  3. Prosedur kerja ditetapkan
  4. Pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja
  5. Angka kecelakaan menurun
  6. Membantu dalam penyelidikan kecelakaan
  7. Menciptakan lingkungan kerja yang aman, mengurangi resiko kecelakaan, serta terlibat dalam proses kerja

Betapa pentingnya JSA  membantu pekerja dalam melakukan pekerjaan secara aman dan efisien , JSA tidak hanya membantu mencegah pekerja dari kecelakaan kerja tetapi juga melindungi peralatan kerja dari kerusakan, Semoga tulisan singkat ini bisa bermanfaat dalam pembuatan serta penerapan JSA dilapangan lebih efisien, efektif dan tepat sasaran.

Penulis: Hendrajati (Pendiri HSE Indonesia, & Praktisi K3L)