Sinetron Dan Nilai Keselamatan
Sinema elektronik atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sinetron adalah istilah untuk program drama bersambung produksi Indonesia yang disiarkan oleh stasiun televisi di Indonesia. Sinetron diperkenalkan oleh Bapak Soemarjono salah satu pendiri Institute kesenian Jakarta (IKJ) , awal munculnya program sinetron ini dari salah satu stasiun televisi swasta di Indoesia pada tahun 1990an.
Televisi dan program-program didalamnya salah satunya adalah sinetron adalah sarana efektif untuk mengedukasi masyarakat dalam segala hal dimana jutaan penonton dinegeri ini setiap harinya menyaksikan tontonan berseri yang selalu membuat terutama kalangan ibu-ibu penasaran kelanjutan dari setiap episodenya, bahkan dewasa ini tidak hanya ibu-ibu peminatnya namun sudah menjarah ke level bapak-bapak sampai dengan anak-anak, betapa dahsyat pengaruhnya untuk merubah perilaku kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
Melihat beberapa tayangan sinetron yang tersaji setiap hari kadang timbul perasaan miris dihati ketika melihat salah satu pemeran sinetron tanpa ada rasa bersalah asyik memboncengkan gadis pujaannya dijalan raya tanpa menggunakan helm keselamatan, apakah hal semacam ini terlalu sering luput dari pantauan juga pemikiran sang sutradara serta para crew sinetron ataukah mereka akan berdalih bahwa ini realita yang sering terjadi dimasyarakat dan tuntutan skenario?. Kejadian ini tidak hanya sekali dua kali terjadi disetiap sinetron televisi, coba kita cermati lebih fokus setiap menonton tayangan-tayangan tersebut para pemeran dengan santainya tidak menggunakan seat belt saat berada didalam kendaraan, tidak menggunakan helm, menggunakan handphone saat berkendara, pemeran naik diatas bak mobil pick up, melawan arus dll secara tidak langsung mengindikasikan kepada penonton bahwa semua itu tidak apa-apa dilakukan serta tidak akan dikenai sanksi. Nilai-nilai negatif tersebut akan lebih cepat tertanam dibenak masyarakat kemudian diikuti dalam kehidupannya.
Memang tidak semua sinetron memberikan pengaruh jelek, masih ada beberapa sinetron yang memberikan tuntunan seperti salah satunya Ok-jek atau tukang ojek pengkolan (TOP) para pemerannya selalu disiplin dalam memberikan nilai-nilai keselamatan bagi para penonton, wajib menggunakan helmet sambil memberitahukan manfaatnya, tidak mau mengebut dan melanggar aturan lalu lintas walaupun pelanggan memintanya. Dinegara-negara maju termasuk film-film series para pemeran tetap menggunakan seat belt saat mereka harus kebut-kebutan melaju dengan kecepatan tinggi antara polisi dan penjahat, ketika pemeran melanggar traffic light polisi dengan sigap mengejar mereka dan lain sebagainya, intinya terdapat nilai yang diberikan kepada penonton bahwa bila melanggar peraturan akan ditindak oleh pihak yang berwenang.
Kita bisa melihat jumlah kecelakaan yang terjadi di Indonesia pada tahun 2018 terdapat 2.310 kecelakaan menurut Kadiv Humas Polri Irjen setyo Wasisto di Mabes Polri Jakarta selatan dan yang meninggal akibat kecelakaan 503 jiwa. Dari sekian banyak terdapat beberapa faktor penyebab kecelakaan yaitu akibat tidak menggunakan helm, menggunakan handphone, berboncengan sepeda motor lebih dari dua orang, dan tidak menggunakan sabuk keselamatan menurut Dirjend Perhubungan darat bapak Budi Setiyadi.
Memang kejadian-kejadian kecelakaan tersebut secara langsung bukan dikarenakan faktor hadirnya sinetron di Indonesia yang sangat diminati segala umur dewasa ini namun alangkah baiknya jika sinetron juga memperhatikan nilai-nilai keselamatan disetiap episodenya sehingga memberikan edukasi positif kepada masyarakat karena masyarakat lebih cenderung meniru apa yang mereka lihat dilayar-layar kaca televisi atau sering disebut juga “what they see is what they do”
Mari insan-insan sineas pertelevisian/perfilman ditanah air untuk lebih mempunyai sense of safety didalam setiap karya-karyanya sehingga memberikan kontribusi positif kepada masyarakat bahwa perilaku aman dan selamat itu sangat kita butuhkan sehingga bukanlah sesuatu yang tidak mungkin jika suatu saat nanti akan terwujud budaya keselamatan di negara ini.
Penulis: Hendrajati, S.Pd (Pendiri HSE Indonesia, Ketua Umum HSE Indonesia & Mahasiswa Pascasarjana MP UAD Yogyakarta)