Yogyakarta Never Ending Safety

Bulan September 2017 kembali menginjakkan kaki di kota Yogyakarta kali ini bukan untuk liburan cuti seperti biasa setelah setahun berkecimpung didunia tambang batubara yang melelahkan namun sekarang tujuanku adalah melanjutkan studi S-2 progrm pasca sarjana magister pendidikan di universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Banyak rekan-rekan praktisi K3 bertanya kenapa tidak melanjutkan di Program K3 untuk S2 nya, jawabku simple untuk membudayakan K3 harus dimulai dari dunia pendidikan bukan dari dunia usaha dan dunia industri.

Yogyakarta yang terkenal dengan slogannya Never Ending Asia memunculkan ekspektasiku yang mungkin terlalu tinggi dengan memberikan tambahan slogan baru yaitu Jogja Never Ending Safety. Membayangkan asia pikiran pasti akan tertuju ke negara Jepang, Korea Selatan, Singapura dan yang terdekat adalah Malaysia. Tentu sudah terbayang betapa rapi, asri, tertib, bersih dan serba teratur begitupun ketika membaca tulisan Jogja Never Ending Asia seakan membayangkan seindah itulah kota Yogya yang sangat istimewa dimataku serta mungkin dimata pengunjung lainnya terbukti tidak henti-hentinya arus wisatawan dalam negeri maupun luar negeri yang setiap harinya mengujungi kota ini.

27 Maret 2019 sudah hampir mendekati 2 tahun saya berada di kota Yogyakarta, kota dimana saya mengenyam pendidikan dari tingkat sekolah dasar (SD) sampai dengan kuliah di universitas yang sama untuk kemudian bekerja di Kalimantan timur tahun 2001 hingga tahun 2017 (16 tahun) yang pada akhirnya harus kembali ke Jogja untuk meneruskan program master. Selama hampir 2 tahun menikmati suka dukanya kota ini bukanlah waktu yang singkat bagi saya pribadi untuk memberikan penilaian real sebagai masyarakat pemerhati masalah-masalah keselamatan, ya penilaian deskriptif kualitatif berdasarkan observasi yang penulis lihat keadaan sehari-hari masyarakat dirumah, tempat umum, maupun di perjalanan, membaca surar kabar juga menu sehari-hari untuk lebih mengetahui perkembangan dunia keselamatan dikota ini serta tanya jawab lisan secara random kepada beberapa orang masyarakat. Tulisan ini bukan tulisan ilmiah hanya bersifat ulasan santai serta pandangan penulis saja mengenai dunia keselamatan, sejauhmana masyarakat mengerti tentang keselamatan dan bagaimana mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

BANDARA INTERNASIONAL

Flash back ke awal kedatangan saya di Bandara internasional Adisutjipto Yogyakarta pada awal bulan September 2017 dengan berat hati harus berpisah untuk sementara waktu dengan isteri dan Hilda anak semata wayang yang berada di kota Sangatta Kalimantan timur.  Mendengar kata Bandara Internasional tentu orang-orang yang telh biasa melakukan perjalanan dari kota satu ke kota lainnya atau dari negara satu kenegara lainnya akan membayangkan sebuah bandara yang besar nan megah namun bandara internasional di kota Yogyakarta ini sungguh berbeda dengan banda internasional lainnya, bandara disini cukup kecil plus sederhana walau setiap hari ratusan orang berdatangan mengunjungi kota pelajar dan wisata ini. Saya harus mengantri sekitar 1 jam hanya untuk mengambil bagasi satu kardus besar berisi baju-baju, uku dan sedikit oleh-oleh, terbayang dimana satu tempat pengambilan bagasi bercampur dengan sedikitnya 4 penumpang maskapai penerbangan yang berbeda terkadang bisa 1 maskapai namun dari 2 kota yang berbeda tumplek jadi satu menunggu datangnya bagasi yang dilansir dari belt conveyor yang sama. Idealnya satu tempat pengambilan bagasi hanya untuk satu maskapai penerbangan dari 1 kota yang sama. Cukup melatih kesabaran menunggu dan berdesak-desakkan dengan banyak orang yang juga sedang antri menunggu bagasinya. Agak lega mendengar kabar bahwa tidak lama lagi akan dibangun bandara besar yang jauh lebih layak, lebih megah di daerah Kulonprogo dengan nama sementara New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) yang rencana bulan april 2019 bisa beroperasi.

RUMAHKU ISTANAKU

Kalimat ini memang tidak pernah salah, sejelek apapun rumah hunian kita namun itu tetap sebuah istana dimana tempat berlindung dari sengatan matahari, dari hujan deras maupun dari mara bahaya lainnya. Sebagai praktisi keselamatan jangan hanya mampu mengkritisi kondisi tidak aman diareal kerja dan diareal fasilitas umum saja namun dia juga harus mampu melihat kondisi tidak aman diareal tempat tinggalnya sendiri, benar istilah SAFETY START FROM YOU.

Begitupun yang saya amati ketika harus pertama kali tinggal di rumah oma (sebutan untuk mama, panggilan tetangga untuk mama saya). Melihat sekeliling rumah yang dua tahun  lalu telah direnovasi menjadi lebih baik, saya melihat keganjilan pada instalasi listrik (walaupun bukan ahli listrik) terdapat satu colokan sumber listrik terpasang empat plug socket dimana setiap socket terpasang lagi extention cable menuju satu kamar keponakan dan didalam kamar tersebut dipegunakan utuk colokan Air Conditionig (AC), colokan/plug kedua terpasang menuju ke kompor listrik dan plug ketiga di gunakan untuk magic jar serta pug keempat digunakan untuk kulkas, sangat terbayang tidak begitu safety nya keselamatan listrik dirumah ini, kemugkinan terjadinya konsleting karena beban daya yang berlebih pada satu colokan listrik yang digunakan beramai-ramai untuk perabotan rumah yang memakan daya besar, hal terburuk aka terjadi adalah kebakaran. Bulan berikutnya oma menindaklanjuti saran dari anaknya untuk memperbaiki kondisi tersebut.

Yang kedua adalah kondisi kayu jati muda yang digunakan untuk menyangga atap rumah dimana kondisinya sudah mulai lapuk, terkikis rayap, terkadang serpihan butiran-butiran kayu berjatuhan mengotori rambut, lantai rumah dan lebih parahnya bila mengenai mata dan sangat dikhawatirkan lagi apabila kayu jati muda yang terkikis rayap tersebut jatuh mengenai anggota keluarga yang sedang tiduran atau rebahan dibawahnya, apa yang akan terjadi? kita bisa membayangkan versi kita masing-masing. Alhamdulillah oma dan kakak bersedia merenovasi kondisi tidak aman tersebut dengan mengganti kayu-kayu dengan menggunakan rangka atap aja yang lebih modern namun aman.

Pernah suatu ketika terjadi hujan deras, rumah telah selesai di renovasi yang kedua kalinya, terkadang penghuni rumah sudah merasa bahwa kondisi rumah sudah jauh lebih aman/nyaman dari sebelumnya, ternyata terjadi kebocoran disana-sini akibat hujan deras yang tiap hari mengguyur kota Yogyakarta, saat oma hendak membukakan pintu keponakan ditngah malam, suara keras bruaak orang terjatuh terdengar sampai kamar depan, ternyata oma yang sudah berusia 74 tahun terjatuh akibat terpeleset disebabkan tumpahan air menggenangi lantai porselin rumah yang sangat licin, tulang rentanya dan sekujur tubuh sakit akibat terpeleset Alhamdulillah selamat. Hal yang sama juga terjadi beberapa minggu kemudian dirumah yag sama,ditempat yang sama namun kali ini menimpa seorang tamu yang akan pulang sore hari ketika hujan sudah reda, ternyata terjadi kebocoran atap ditempat yang sama walaupun sudah diperbaiki beberapa hari sebelumnya.

Masih terdapat beberapa kejadian-kejadian yang berpotensi melukai penghuni rumah, kita harus mampu mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan potensi bahaya yang bisa menimbulkan orang celaka, rumah yang seharusnya menjadi tempat teraman dalam kehidupan manusia ternyata bisa menjadi tempat timbulnya bencana bagi orang-orang didalamnya, sering  kita mendengar orang terjatuh didalam kamar mandi kemudian meninggal dunia, ini bukan mitos horor yang sering dikait-kaitkan orang dengan penunggu makhluk halus yang ada dikamar mandi, pertanyaannya apakah kita rajin memberihkan kamar mandi agar tidak licin, adakah beda elevasi jlan menuju kamar mandi, apakah ada pegangan didalam kamar mandi untuk orang yag sudah senja alias sudah sepuh ataupun bagi kaum difabel yang ada dirumah kita ? dalam ilmu keselamatan kia harus mampu melihat siapa orang yang ada didalam rumah kita, peralatan apa yang kita miliki dan yang kita gunakan, punya tidak control untuk mengendalikan potensi-potensi bahaya tersebut, maintenance atau perawatannya bagaimana, material yang kita gunakan seperti apa, tepat tidak cara penggunaannya. Jika kita tidak mampu mengontrol hal-hal yang terkadang dianggap sepele tersebut maka tidak heran jika suatu saat kita kejatuhan kaca dari langit-langit dapur karena pemilihan material yang beresiko meukai kepala maupun anggota badan lainnya, rak dinding dapur terjatuh akibat instalasi yang tidak benar atau bahkan material yang digunakan salah dll.

Kita terlalu pintar untuk menilai resiko serta mengidentifikasi bahaya yang ada di areal perusahaan namun  terlalu bodoh untuk tidak mau menilai resiko serta mengidentifikasi bahaya yang ada di rumah sendiri, kita terlalu abai padahal didalam rumah  terdapat seorang isteri yang sangat dicintai, beberapa orang anak kesayangan bahkan terkadang orang tua juga keluarga besar  ada disatu rumah yang sama namun sering secara tidak sadar ‘Nyawa’ orang-orang tercinta lebih murah. Bila ada satu system yang meregister kejadian kecelakaan dirumah penulis yakin akan ditemukan jumlah angka yang fantastis dari akibat terjatuh di kamar mandi, terpeleset, terjatuh dar tangga, terjatuh dari ketinggian, kompor meledak, konsleting listrik, kesetrum, kebakaran rumah, tertimpa material/barang dan lain sebagainya. Maka jadikanlah Rumahku Istanaku yang  benar-benar Aman

PUBLIC SAFETY

Keselamatan umum sangat tidak popular dikalangan masyarakat umum sehingga untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-haripun cukup sulit utuk dilaksanakan namun bukan berarti tidak bisa. Publik safety mencakup 4 hal yaitu keselamatan pribadi, keselamatan infrastructure, jaminan kesehatan dan digital security namun penulis tidak akan membahas ke empat hal tersebut, pembahasan hanya berdasarkan hasil pengamatan selama kurang lebih 2 tahun berada di kota Yogyakarta. Lebih menitik beratkan kepada faktor perilaku manusia dan beberapa menyangkut sarana prasarananya.

Berdasarkan buku Global trend in safety 2020 (2019:10) DKI Jakarta adalah kota yang paling tidak aman didunia dalam hal keselamatan umum, data ini diperoleh dari Economist intelligence survey tentang Safe Safety Index. Jakarta merupakan gambaran Indonesia karena disanalah ibukota negara republik Indonesia. Yogyakarta adalah bagian dari salah satu kota di negara ini yang dikenal dengan sebutan kota pelajar dimana pemuda-pemudi di seluruh nusantara menuntut ilmu di kota ini, idealnya kota pendidikan adalah kota yang lebih berbudaya, lebih maju, lebih unggul dari segala aspek karena disinilah pusat ilmu pengetahuan, pusat para intelektual berkumpul, generasi-generasi cerdas terpelajar tumpah ruah dikota ini. Jadi sangat tepat bila penulis mendiskripsikan sejauhmana budaya keselamatan sudah diimplementasikan oleh masyarakatnya. Penulis hanya akan membahas hasil temuan negatif dari salah satu sampel  yang berhasil dilihat secara langsung dalam kehidupan sehari, namun hasil temuan ini tidak bisa serta merta menggambarkan keseluruhan masyarakat jogja berperilaku tidak Safe,,tidak sama sekali, masih banyak hal-hal baik daripada hal-hal buruk yang ditemukan. Anggaplah dari sekian ratus ribu intelektual di kota ini ada satu, dua orang yang berperilaku diluar keintelektualannya karena masalah keselamatan pada dasarnya bukan karena masalah siapa yang intelektual atau bukan namun lebih kepada masalah kesadaran berperilaku aman.

Berikut adalah hal-hal yang masih sering penulis temui :

  1. Membuang sampah sembarangan

Hampir disemua kota di Indonesia mempunyai permasalahan dengan yang satu ini, disatu titik kebersihan terjaga namun di titik lain masih saja banyak ditemui sampah=sampah berserakan, sekalipun kota yang telh mendapatkan penghargaan Adipura maupu Adipura Kencana yang sudah berkali-kali mendapatkan apresiasi sebagai kota terbersihpun masih memiliki titik-titik sampah berserakan, Yogyakarta pun demikian tak jarang di areal traffic light sampah-sampah plastic, bekas puntung rokok, bungkus rokok dan bungkus permen, di pusat keramaian seperti pasar malam, pasar-pasar tradisional, bahkan di pinggir-pinggir jalan-jalan dll. Memang sudah ada petugas kebersihan namun masalah menjaga kebersihan lingkungan adalah tugas serta tanggung jawab individu sebagai warga masyarakat yang baik

  1. Aksi Vandalisme dan Menempel Kertas

Walaupun dinding-dinding tembok di pinggir jalan sudah dilukis dengan sangat indah oleh seniman-seniman lukis jogja namun masih saja ditemukan coretan-coretan pada dinding yang telah dilukis, saya tidak tahu seperti apa manusia yang melakukan tindakan bodoh seperti itu, pertanyaannya bagaimana jika dinding-dinding tembok tersebut belum dilukis ? pasti begitu banyak tulisan-tuisan tidak jelas juga gambar-gambar tidak jelas yang terpampang disana dan mengganggu keindahan lingkungan. Aksi terparah yaitu pada hari jumat tanggal 15 Februari 2019 relief di Monumen serangan umum 1 maret yang berada di kompleks benteng vredeburg di corat-coret menjadi sasaran aksi vandalism.

Menempel kertas di tiang traffic light, di pohon, dan dinding-dinding tembok juga kebiasaan buruk merusak keindahan lingkungan, masih terlihat tempelan-tempelan dipinggr jalan raya yang menawarkan jasa sedot tinja, pengobatan alternative, sedot tinja, angkutan barang dll, seharusnya tindakan tegas dilakukan pihak berwenang terkait agar kebiasaan-kebiasaan uruk ini perlahan mulai terkikis termasuk aksi vandalism diatas. Aksi temple-tempel sembarangan juga terkadang dilakukan oleh oknu-oknu terpelajar yang mencalonkan menjadi anggota dewan dengan menempelkan wajahnya di tembok-tembok, di pohon-pohon bahkan memasang posternya dengan menancapkan kayu dipinggir-pinggir jalan tanpa memperhatikan keindahan kota padahal pemerintah kota sudah menyiapkan titik-titik tempat yang bisa digunakan untuk sosialisasi diri para caleg dan pasti undang-undang juga sudah mengatur mengenai pemasangan Alat peraga kampnye (APK). Pesta demokrasi namun harus memperhatikan aspek-aspek keindahan dan kebersihan kota

  1. Berjualan diatas trotoar pejalan kaki (Pedestarian)

Bila rajin mengeliingi kota jogja tidak harus seluruh kota, sebagian kecil saja. Maka anda akan menemukan beberapa titik trotoar yang digunakan untuk berjualan baik minuman ringan, aneka makanan dll, ada yang berjualannya dari pagi hingga malam, ada yang berjualanya pagi saja da nada yang berjualannya hanya malam hari bahkan trotoar dijadikan tempat lesehan orang-orang menikmati kuliner suasana khas jogja, saya tidak tahu apakah hal ini dibiarkan menjamur oleh pemerintah karena ‘Maaf’ keistimewaan kotanya. Leih menghebohkan lagi ada yang menjadikan trotoar tempat memarkir mobil, mobil berada tepat diatas trotoar, seolah-olah pemerintah membuat trotoar digunakan sebagai lahan parkirnya.

  1. Parkir mobil/motor dipinggir jalan

Mungkin kurang lebih dengan daerah lain dimana kendaraan umum leluasa memarkirkan unitnya dipinggir jalan yang bisa menimbulkan kemacetan bahkan kendaraan yang sedang parkir ditabrak kendaraan lainnya. Kurangnya lahan parkir menjadi masalah utama, ada beberapa toko dipinggir jalan yang menyediakan tempat parkir tapi lebih banyak yang tidak menyediakan lahan parkir sehingga menyebabkan kendaraan tumplek parkir dipinggir jalan, begitupun dibeberapa sekolah juga universitas masih terlihat parkir kendaraan dipinggir jalan umum walau pihak universitas telah menyediakan beberapa tempat parkir namun kapasitasnya masih kurang sehingga dibiarkan mahasiswa memarkir kendaraannya dipinggir jalan kemudian fenomena seperti ini menjadi peluang bagi tukang parkir liar menarik distribusi kepada warga kampus,  inilah salah satu penyebab kemacetan jalan dan juga kecelakaan.

Ada beberapa pasar dikota ini dimana akses jalan terbatas, parkir mobil/motor dipinggir jalan, tidak ada fasilitas parkir unit di pasar tersebut, setiap hari terjadi kemacetan dijalan tersebut, menguji kesabaran pengendara lain, hal itu terjadi bertahun-tahun lamanya tanpa ada perbaikan serta solusi untuk menangani kemacetan.

  1. Pelanggaran Aturan Lalu lintas

Jika melihat statistik kecelakaan lalu lintas di Jogja pada tahun 2018 telah terjadi 562 kasus dimana tahun 2017 hanya terjadi 373 kasus jadi meningkat sekitar 189 kasus

Lakalantas. Statistik yang baik seharusnya terjadi penurunan, banyak faktor yang menyebabkan angka lakalantas naik kemungkinan salah satunya jumlah penduduk dan pendatang yang setiap tahunnya meningkat ditambah jumlah kendaraan yang juga ikut bertambah, tidak diimbangi dengan bertambahnya jumlah jalan alternative juga bisa berkontribusi terhadap peningkatan tersebut menurut penulis.

Kejadian kecelakaan tidak serta merta terjadi begitu saja dalam ilmu Safety, ada beberapa perilaku tidak aman yang sering dilakukan dan terjadi pembiaran. Pihak kepolisian sudah sering melakukan sosialisasi Safety Riding disekolah-sekolah juga kepada masyarakat umum, melalui media massa, televisi Rambu-rambu, poster-poster dijalan, namun semua kembali ke faktor manusianya. Penulis sering menjumpai beberapa kebiasaan buruk pengemudi kendaraan diantaranya :

  1. Tidak memakai helmet dijalan raya masih sering terlihat apalagi dijalan-jalan kecil pinggiran kota, kadang dua-duanya tidak memakai, terkadang penumpangnya yang tidak memakai, ada juga yang membonceng 2 anaknya namun hanya bapaknya/ibunya yang memakai helmet, ini ulah segelintir orang yang tidak patuh aturan serta tidak menyayangi nyawanya. Bila diperhatikan lagi lebih detail juga masih banyak yang menggunakan helmet tidak standar diantaranya tali pengaman tidak di Klik-an, ada yang tidak memiliki tali pengikat sama sekali, kadang menggunakan helmet sebatas formalitas agar tidak ditangkap polisi, pemikiran seperti itu sangat konyol, orang yang sudah dewasa pasti tahu manfaat helmet untuk melindungi kepala dari benturan saat terjatuh yang bisa menyebabkan gegar otak, kepala pecah berakhir dengan kematian bila terjadi kecelakaan.
  2. Memutar jalur di depan lampu merah, tindakan ini terlihat sepele namun sangat membahayakan pengemudi dibelakangnya yang mengira pengemudi didepannya akan jalan lurus tapi tiba-tiba memutar arah ketika traffic light hijau menyala.
  3. Menerobos lampu merah ketika pengemudi melihat jalan didepannya sepi biasanya sering terjadi ditengah malam bahkan ada juga yang melakukan di siang hari bolong, terutama jika pengemudi melihat tidak ada polisi dilokasi. Begitupun ketika lampu kuning menyala bukannya siap-siap untuk berhenti malah justru hamper semua pengemudi semakin mengencangkan laju kendaraannya (nge-gas)
  4. Mobil open kap dan bak truck digunakan untuk mengangkut barang/material peruntukannya bukan untuk mengangkut manusia. Coba searching di mbah google sudah berapa orang meregang nyawa akibat tindakan salah tersebut, tidak hanya satu orang bahkan puluhan nyawa secara massal akibat kendaraan yang ditumpangi jatuh ke jurang, terbalik dijalan raya dll mereka terhambur, terlempar keluar unit dengan masing-masing posisi yang mengenaskan.
  5. Kebiasaan memotong jalan, pengertian disini ukan berarti jalannya dipotong tetapi pengendara tidak memberikan kesempatan kendaraan dari arah depannya melintas alias main serobot saja tanpa lihat kiri kanan, aturannya kendaraan yang akan menyebrang memberikan prioritas kepada kendaraan ysng melintas didepannya. Kasus mengambil jalan kendaraan lain juga terjadi ketika jalan macet yaitu mobil terlalu mepet kekiri dimana ada marka jalan khusus pengguna sepeda motor sehingga memperparah kemacetan dijalan raya karena motor tidak bisa bergerak sama sekali terhalang oleh mobil yang mengambil semua badan jalan walaupun tidak ada marka seharusnya mobil memberikan sedikit ruang disebelah kiri jalan untuk sepeda motor. Terkadang saat jalan macet pengendara sepeda motor dikagetkan dengan munculnya motor yang memotong jalannya dari depan, ebrapa kali pernah terjadi tabrakan ringan antar sesame sepeda motor karena ketidak tertiban perilaku pengendara.
  6. Penggunaan handphone yang tidak pada tempatnya juga sangat beresiko menyebabkan kecelakaan karena konsentrasi berkendara pasti akan terbagi walaupun mata pengemudi terlihat kearah depan jalan. Penulis sering melhat hal ini justru dilakukan oleh kaum hawa khususnya para remaja putri mengemudikan sepeda motor sambil asik menelepon, tangan kirinya ngegas namun tangan kanannya memegang handphone diarahkan ketelinganya, ada juga yang berkendara sambil mengobrol menggunakan handsfree. Pernah suatu ketika dilampu merah seorang pria didepan saya asyik bermain handphone sepertinya asyik ber SMS ria atau membalas WA ketika lampu hijau si pengendara tetap asyik memainkan Handphonenya sehingga kendaraan dibelakangnya tidak bisa lewat terhalang sepeda motornya, otomatis bunyi klakson bersahut-sahutan dan ada yang mengomel karena kelakuan buruk orang tersebut.
  7. Saat saya sedang memboncengkan isteri saya dengan sepeda motor tiba-tiba dari arah samping menyalip sepeda motor terlihat pengemudi dan satu penumpang semuanya pria tidak menggunakan helmet dan hanya memakai celana pendek, motornya pun oleng kiri kanan sepertinya mereka dalam keadaan mabuk, ketika saya hendak menyalipnya dengan menjaga jarak yang saya rasa aman namun ternyata tidak aman karena secara mengejutkan motor saya dipepet oleh pengendara mabuk tersebut, motor saya sempat sedikit oleng, beruntung saya masih bisa menjaga keseimbangan. Kejadian ini sangat rentan terjadinya kecelakaan, mengemudi dalam keadaan mabuk sangat-sangat berbahaya baik bagi diri mereka sendiri dan juga bagi kendaraan lainnya.

Dari sedikit deskripsi yang memang penulis temukan serta lihat secara langsung, ternyata penyebab banyaknya kejadian kecelakaan dikota Yogyakarta dari tahun ketahun diseabkan tujuh faktor berikut yaitu pengendara masih dibawah umur, berkendara dengan kecepatan tinggi, melawan arus, menggunakan telepon genggam, tidak menggunakan helmet, posisi mabuk an tidak menggunakan sabuk keselamatan. Hal ini dikatakan langsung oleh direktur dirlantas Polda DIY  Kombes polisi Latif Usman saat talkshow Cegah Pelanggaran Lalu Lintas di Auditorium MM UGM Yogya selasa  27/11/2018 (sumber News ID Yogya)

Penulis: Hendrajati, S. PD