Ngebut
Teringat saat di usia muda dimana tidak ada rasa takut, semakin adrenalin naik semakin itu yang dilakukan, tidak mengenal apa itu keselamatan, bagaimana cara agar harus selamat bermodalkan yakin, setengah nekat dan bila terjatuh itu memang sudah suratan takdirnya harus begitu, lucu memang bila mengingat masa masa ‘Jahiliyah’ terkadang geli sembari senyum kecut membayangkan kebodohan dimasa lalu. Kami berempat masing-masing mengendarai sepeda motornya sendiri menentukan tujuan yang akan dicapai dengan rute jalan sesuka kita, intinya siapa cepat sampai tujuan dialah pemenangnya walau kadang tidak mendapatkan hadiah apa-apa kecuali sedikit pujian dari teman-teman selebihnya kepuasan hati saja. Ngebut adalah hal biasa yang sering dilakukan tanpa menyadari bahwa Nyawalah Taruhannya.
Dari cerita diatas memang tindakan serta perilaku tidak aman itu dilakukan hanya karena ingin mendapat pujian dari orang lain khususnya teman-temannya, biar kelihatan gagah, keren, macho juga sok jagoan apalagi bila terdapat wanita yang mengitari disekelilingnya. Alasan klise lainnya yang sering terdengar adalah terburu-buru ingin cepat sampai karena takut telat, kebelet buang air kecil/besar dan alasan yang agak masuk akal diterima adalah karena emergency antar orang tua sakit walau sebenarnya itu juga kurang tepat. Ada juga yang ingin pamer karena memiliki motor mahal sehingga diantaranya mencari perhatian orang lain, anak-anak dibawah umur pun gak mau ketinggalan ikut mengebut mereka biasa meniru adegan film atau habis menonton balapan di televisi apalagi jika kondisi jalan mulus plus sepi semakin kencang mengemudikan kendaraannya semakin asyik tanpa peduli keselamatan dirinya juga keselamatan orang lain.
Mengebut ini secara tidak langsung menggambarkan sifat diri si pengendara yaitu egois tidak peduli dengan sekitarnya, mau menang sendiri, emosi jiwa muda yang tinggi, apalagi bila dilakukan orang tua yang emosinya seperti anak muda labil yang susah terkontrol, lain cerita bila itu dilakukan di lintasan arena balapan justru adrenalin dibutuhkan namun mereka tetap memperhatikan aspek-aspek keselamatan. Pernah suatu saat ada yang menyalip motor saya dengan kecepatan tinggi, saya berpikir positif mungkin dia lagi buru-buru sehingga mengabaikan keselamatan diri sendiri juga pengendara disekitarnya namun aneh setelah lebih dari 1 Kilometer saya lihat yang bersangkutan asyik-asyik duduk bersama teman-temannya dipinggir jalan sambil merokok artinya dia tidak sedang buru-buru dan mengebut adalah kebiasaannya, kadang terbersit pertanyaan apa yang dicari dari tindakan berbahaya itu? Mungkin dalam pikiran orang itu mengingatkan kita pada istilah “Biar ngebut asal selamat “. Pernah juga terjadi anak tetangga masih dibawah umur yang pasti diijinkan oleh orang tuanya mengendarai sepeda motor karena tiap hari selalu melintas didepan rumah dengan kecepatan diatas rata-rata walaupun di gang sempit, menjadi omongan tetangga itu hal pasti bahkan sudah diingatkan orang tua dan anaknya namun masih saja kebiasaan buruk dilakukan sehingga singkat cerita terjadilah kecelakaan yang menewaskan anak tersebut, nasi telah menjadi bubur penyesalan selalu hadir diakhir cerita, istilah “ jatuh di aspal tidak seindah jatuh cinta: pun berakhir di pemakaman umum. Teringat juga komentar anak-anak muda yang mengatakan gak pa pa ngebut, “ I am Single Nobody Loves Me” mereka lupa masih ada kedua prang tua serta adik kakaknya yang sangat mencintainya.
Apakah fenomena kebut-kebutan ini hanya terjadi pada anak remaja/usia muda saja? Ternyata tidak bahkan beberapa ibu-ibu tak mau kalah memacu motornya dengan gas full, injak gas, serasa jalan miliknya, menyebrang jalan, belok kiri kanan pun tanpa menoleh sekitarnya main tancap gas saja tidak peduli kondisi sekitar aman atau tidak pokoknya yang lain harus berhati-hati, reting kanan belok kiri . Kakek-kakek juga sering terlihat memacu kendaraan tanpa helmet dengan kecepatan tinggi, mungkin dalam pikirannya aman saja yang lain pasti mengalah sama orang tua atau kalau terjadi kecelakaan itukan sudah takdirnya. Seorang pembalap Prancis yang pernah datang ke Indonesia di tahun 2016 terkesan saat datang ke Indonesia, dia mengatakan, “ Saya pikir jika balapan sudah gila ternyata disini ibu-ibu dan wanita-wanita cantik ngebut dijalan raya lebih gila lagi”. Kesimpulannya urusan ngebut tidak mengenal jenis kelamin dan tidak mengenal umur.
Tipikal orang ngebut ugal-ugalan itu memiliki emosi tinggi, perilakunya labil, lampu merah dilanggar seolah-olah traffic light lampunya warna hijau semua, tancap gas disimpangan, pertigaan pokoknya gak mau ngalah, selalu terburu-buru seolah-olah semua emergency, di gang-gang kecil pun ngebut, menyerobot jalur kendaraan lain tanpa peduli pengguna jalan terkadang juga menyerempet spion dan body kendaraan lain, zig zag dengan kecepatan tinggi sesuka hati. Mereka tidak peduli dampak dari mengebut yang selalu dilakukan berulang-ulang, seandainya mereka sadar bahwa tindakan tidak aman mereka itu bisa mengakibatkan Kecelakaan yang berpotensi meninggal dunia, cacat permanen kehilangan anggota tubuhnya dan kemungkinan terkecil cuman luka-luka ,cukup diberikan perawatan P3k ala kadarnya, dampak buruk lainnya bisa mengakibatkan perkelahian sesama pengguna jalan yang merasa terganggu oleh tindakan tidak menyenangkannya. Akhir dari petualangan terburuknya kalau tidak masuk liang kubur, masuk rumah sakit ataupun masuk penjara. Silahkan pilih yang mana?
Bagaimana menghadapi pengendara yang ugal-ugalan, ingin menang sendiri, ceroboh serta egois? Langkah pertama dengan selalu menjaga jarak kendaraan anda dengan yang bersangkutan, kasih jarak sekitar 4 sd 5 meter lalu berikan dia jalan. Langkah berikutnya
Jangan terpengaruh emosi yang sabar saja karena akan merugikan diri kita sendiri menghadapi manusia seperti itu, lebih baik kita mengalah untuk menang (sing waras ngalah) kemudian fokus saja kita mengemudi dengan mematuhi peraturan lalu lintas serta langkah terakhir laporkan ke pihak berwajib bila kondisi telah sangat meresahkan juga membahayakan banyak orang, cukup hapalkan no lambung, merk kendaraan, ciri-ciri pengemudinya (bila ingagt), tanggal dan tempat kejadian bila perlu di foto atau di video untuk memberikan efek jera.
Semoga kita semua tergolong masyarakat yang mematuhi peraturan lalu lintas jalan, masyarakat yang masih waras alias sadar akan pentingnya keselamatan diri pribadi maupun keselamagtan orang banyak. Tetaplah menjadi teladan keselamatan dimanapun kita berada. (HJ-YI-HSP)
Penulis : Hendrajati (Pendiri HSE Indonesia, Praktisi K3, Pemerhati K3 dan Trainer K3)